Minggu, 20 November 2011

Aku dan diriku


 Aku bertanya pada diriku, untuk apa aku hidup didunia ini..? Seketika  jiwaku tersentak, jantungku berdetak kencang, namun hatiku hanya diam seribu bahasa, otakku langsung berfikir, seakan berputar-putar mencari-cari sesuatu, bukan aku tak tau jawabanya, lebih dari sekedar jawaban yaitu sebuah alasan, alasan kenapa kenapa aku harus beribadah hanya kepada Alloh semata. Akan tetapi  jemari tangan kanan  ini mulai menggaruk-garuk belakang kepalaku, mataku tertegun, seakan memandang tetesan hujan yang terbias oleh sorotan cahaya lampu mobil sedan di malam hari, dudukpun mulai serba salah, badanku menggigil, kepalaku pusing, keringat dingin mulai menetes disela-sela rambutku, membasahai punggung dan dadaku, seakan malam ini akan ku habiskan hanya untuk mencari sebuah alasan.

Ku hirup secangkir  teh panas itu untuk menggantikan energi  yang terbuang lewat cucuran keringat ini, cucuran keringat yang bukan karena aku bermain futsal,  bukan keringat seperti ketika aku  mendorong vespa bututku yang mogok, bukan juga keringat karena lariku di kejar anjing gila, tapi hanya karena memikirkan akibat dari sebuah jawaban akan sebuah pertanyaan.

Jam di hapeku  hampir menunjukan  tengah malam, namun hatiku masih galau meski detak jantungku sudah mulai normal. Otakku mulai mengusulkan opsi-opsi alasan, namun aku belum berani mengutarakanya pada hati kecilku. Perlahan ku buka pintu rumah ini, kulepaskan pandanganku jauh menembus kelamnya malam yang dingin bercampur uap air hujan yang mulai reda, kucoba mengurai makna dengan memandang keagungan alam yang sungguh mempesona, dengan harapan diluar sana ada setitik embun yang menyejukan jiwa.

Dihalaman rumah bekas reruntuhan bangunan di tepi jalan besar yang mulai sepi dari kendaraan yang berlalu-lalang, aku duduk menghadap sebuah pohon kecil yang berada dalam sebuah pot yang tak terlalu besar dari ukuran pohonya. Sejenak aku perhatikan sungguh indah bentuknya, unik karena jarang aku melihat pohon sejenisnya dengan ukuran semungil itu, sesaat baru aku sadari ternyata pohon itu bukan pohon biasa, sebuah pohon yang mengalami pertumbuhan diluar apa yang diinginkanya, akarnya dipotong sedemikian rupa, batangnya hanya dimabil seperlunya saja, tangkai dan rantingnya di bengkok-bengkokan  dan daunya pun di rontokkan kecuali sedikit saja. 

Malam ini tidak ada rembulan, hanya sedikit bintang yang menampakan diri karena hujan gerimis baru saja berhenti. Suasana remang di temani cahaya lampu dop di emperan tetangga, sesekali terhalang oleh daun-daun bunga kertas yang di hembus angin malam. Mataku terhenti pada seekor cicak didinding rumah tetangga yang mengendap merayap setapak demi setapak mengincar  seekor  kupu kecil, saat itu bagi cicak sedikit melakukan kesalahan berakibat hilangnya jatah santap malamnya. Dengan penuh kesabaran cicak itu terus mengintai mangsanya, sambil terus memperdekat jarak terkamnya, dan ketika dirasa jarak sudah ideal untuk menerkam, dengan cekatan dia julurkan lidahnya tepat di tubuh kupu kecil sasaranya, namun keberubtungan belum menyertainya ternyata kupu kecil itu lebih sigap mempertahankan dirinya, hanya sepersekian detik dia terbang menyelamatkan dirnya dari terkaman cicak. 

Aku hela nafasku panjang-panjang, setelah otaku terhibur dengan pemandangan yang sangat menakjubkan, dan kembali berusaha mencari dan menemukan suatu alasan “kenapa aku harus beribadah hanya kepada Alloh semata..??”. Serasa memutar balik waktu tujuh tahun silam, teringat ketika Pak Rusbandi dengan senyum khasnya bercerita ketika dia ditanya salah seorang muridnya “ Pak…burung garuda itu jantan apa betina ya pak…??, sambil menunjuk burung kayu yang terpaku di dinding, diatas papan tulis yang berwarna putih “ …Sejenak pak Rusbandi terdiam, lalu berkata pada murid yang bertanya tadi “ Gus…kamu lihat tangga kayu di luar itu kan…?? Sambil menunjuk jauh keluar kelas…” ya pak saya lihat, jawab muridnya, “ sekarang kamu ambil tangga itu dan bawa kemari” untuk apa pak…?? “ katanya mau tau tau burung itu jantan apa betina , sambil menjewer telinga si murid. Tak berapa lama murid pun datang sambil membawa tangga kayu itu, meski agak berat, diangkatnya sendiri karena takut malah dijewer lagi kalau tidak mau mengambilnya. “ Nah sekarang kamu panjat dinding ini, dan kamu lihat sendiri apakah burung garuda itu jantan atau betina, cepat….sontak suasana kelas jadi bergemuruh Karena tawa seisi kelas yang sebelumnya sudah mulai rebut. Tidak menyangka akan disuruh demikian, si murid hanya nyengir sambil memanjat tangga keatas, Sesampai di atas, disamping burung garuda yang terbuat dari kayu itu si murid terdiam, menoleh kepada pak Rusbandi , maka pak Rusbandi pun bertanya “ gus…burungnya jantan apa betina…??
Sudah lewat tengah malam, namun nampaknya mata ini belum mau memejamkan diri, mungkin masih terbebani dengan panasnya otaku yang terus beimajinasi. Sejurus otakku berkata “ sungguh luar biasa apa yang terjadi pada pohon itu…meski dengan keadaan abnormal dirinya masih tetap bertahan, mencoba menyenangkan sang majikan meski tubuhnya penuh luka, tetap berusaha menjadi hamba yang taat penuh ketundukan disaat jiwanya sangat tertekan.Dan juga  kegigihan si cicak yang sangat luar biasa, dengan segala kekurangan yang ada dia terus berusaha, pantang menyerah meski hanya untuk seekor nyamuk sebagai pengganjal perutnya, kegagalan memenuhi isi perut tidak membuatnya kecewa, apalagi sampe gantung diri pake tali sepatu, atau melompat kebawah dari loteng tempat dia tinggal. Dan juga kisah unik Pak Rusbandi, dengan jiwa besarnya sebagai seorang guru, memberikan jawaban yang tidak hanya membuka mata kita tapi juga daya nalar kita untuk berfikir jauh kedepan”.

Sejenak hati ku tertegun, tak disangka, apa yang di katakana otaku membuat hati ini terpana, “iya…aku tau alsanya” hatiku bergumam, “ keserasian hidup, kemampuan untuk survive, dan kelapangan berfikir merupakan anugrah yang luar biasa…dan sunnguh yang semikian itu tidaklah lepas dari manusia kecuali jika dia melupakan apa yang sewajibnya dia kerjakan”. Seketika hatiku tersenyum riang, di khabarkanya berita itu kepada semua bawahanya bahwa hati sudah tau alasanya, dan semua tersenyum riang, mata mulai mengerutkan pupilnya, sekujur badan mulai terasa pegal-pegal, dan sudah beberapa kali mulut ini menguapkan kantuknya.

“ Istirahatlah wahai saudaraku, tunaikanlah hak-hak tubuhmu, sampai tiba waktu subuh nanti barulah kau tunaikan hak-hak Rabmu” itulah pesan hatiku, sejenak sebelum meninggalkan dunia ini, untuk sementara waktu.

Abu hatim.

[26 September 2010]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar